scabies

Saga | Abrus precatorius

saga

daun saga

Tanaman saga berupa perdu merambat, membelit dengan panjang 6-9 m. Batang bulat, berkayu, percabangan simpodial (percabangan tumbuhan antara batang pokok dengan percabangannya sulit dibedakan atau ditentukan), bila masih muda warnanya hijau dan setelah tua berwarna hijau kecokelatan. Daun majemuk, berselang-seling, menyirip ganjil, anak daun 8-18 pasang, bentuk daun bulat telur, ujung meruncing dan pangkalnya bulat, tepi daun rata dengan panjang 6-25 mm dan lebar 3-8 mm, berwarna hijau. Bunga majemuk, berbentuk tandan, bagian bawah berkelamin dua, bagian atas hanya terdiri dari bunga jantan, kelopak bunga bergerigi pendek, berbulu, berwarna hijau, benang sari menyatu pada tabung, panjang tangkai sari ±1 cm, berwarna putih, warna kepala sari kuning, tajuk bunga bersayap, berkuku pendek, lebar ±1 cm, pangkal bunga berlekatan pada tabung sari, berwarna ungu muda hingga kemerah-merahan. Buah polong, panjangnya 2-5 cm, jumlah buah 3-6 buah dan berwarna hijau. Bentuk biji bulat telur, keras, panjangnya 6-7 mm dan tebalnya 4-5 mm, warnanya merah bernoda hitam. Akar tunggang dan berwarna cokelat kotor.

Saga memiliki kandungan kimia seperti abrine, precatorine, chline, trigoneline, squelene dan asam galat. Saga memiliki rasa pedas, pahit dan sangat beracun (biji).

CARA MENDAPATKAN SAGA

Cara budidaya dengan biji vang dipelihara dengan sangat mudah yaitu dengan penyiraman yang cukup, menjaga kelembaban serta dengan sedikit pemupukan. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 1-1.000 m dpl, pada berbagai macam tanah, dengan curah hujan 1.500-4.500 mm/tahun.memerlukan sedikit atau sebagian naungan.

BAGIAN TANAMAN YANG DIGUNAKAN
Biji, akar, daun.

KHASIAT SAGA
Tumbuhan saga berkhasiat sebagai obat sariawan, obat batuk dan obat radang tenggorokan serta epilepsi. Selain itu saga juga memiliki aktivitas sebagai analgesik (obat penahan sakit), anthelmintik (obat untuk menghancurkan cacing atau parasit), anti bakteri, anti diare, anti jamur, anti peradangan, antipasmidik (obat untuk mengobati gejala seperti nyeri dan kejang pada sindrom iritasi usus), anti tumor dan anti virus.

Daun saga berfungsi sebagai penyejuk pada kulit dan selaput lendir, akar sebagai emetikum atau perangsang muntah, akar dan batang berfungsi sebagai anti radang, diuretic (dapat meningkatkan produksi air kencing).

RESEP
Biji, akar, dan daun saga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat, sedangkan biji saga sangat beracun sehingga perlu kehati-hatian dalam penggunaannya.

1. Infeksi cendawan, scabies, radang kulit bernanah, dan eksim
Ambil biji saga secukupnya, cucu bersih, dan tumbuk halus. Setelah halus tambahkan minyak kelapa atau VCO ke dalam biji saga yang sudah ditumbuk, dan aduk hingga rata. Setelah itu oleskan ke bagian tubuh yang sakit.

2. Hepatitis dan sakit tenggorokan
Cuci bersih 17 g akar dan batang setelah dipotong potong menjadi bagian yang kecil, dan rebus dengan 3 gelas air sampai mendidih dan tersisa 1 gelas. Setelah dingin saring rebusan, dan minum 2 kali sehari masing masing ½ gelas.

3. Serak dan amandel
Cuci segar 7 g daun segar dan 4 g daun kering, seduh dengan Vicangkir air mendidih, dan diamkan beberapa saat. Ketika dingin saring seduhan dan minum sekaligus. Gunakan 2 kali sehari dengan dosis yang sama.

4. Bronkitis
Cuci bersih 17 g daun segar dan rebus dengan 2 gelas air sampai mendidih dan tersisa 1 gelas. Setelah dingin, saring hasil rebusan, dan minum 1 kali sehari masing masing 1 gelas selama 7 hari.

5. Batuk pada anak
Cuci bersih segenggam penuh daun saga termasuk tangkainya, sebutir bawang merah, 3 butir adas, sepotong kecil kayu pulosari, dan gula batu secukupnya. Tambahkan bahan bahan dengan 2 gelas air, dan rebus selama 15 menit. Setelah dingin saring ramuan, dan minum airnya.

Mindi Kecil

mindi-kecil

mindi-kecil

NAMA DAERAH:
Sumatera: Renceh, mindi kecil. Jawa: Gringging, mindi, cakra-cikri.

URAIAN TANAMAN:
Pohon meranggas, banyak bercabang, tinggi 10-20 m, kerapkali ditanam di sisi jalan sebagai pohon pelindung, kadang-kadang menjadi liar di daerah-daerah dekat pan- tai dan dapat ditemukan dari dalaran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 1.100 m di atas permukaan laut.
Kulit batang berwarna coklat tua, daunnya daun majemuk menyirip ganda yang tumbuh berseling dengan panjang 20-80 cm.

Anak daun berbentuk bundar telur sampai lanset. tepi bergerigi. ujung runcing, pangkal membulat atau tumpul, warna daun permukaan atas hijau tua dan permukaan bawah hi- jau muda dengan panjang 3-7 cm, lebar 1,5-3 cm.
Bunga majemuk dalam malai yang panjangnya 10-20 cm, keluar dari ketiak daun, dengan daun mahkota 5, panjangnya sekitar 1 cm, warnanya ungu pucat, baunya harum. Buahnya buah batu, bulat yang diameternya sekitar 1,5 cm, warna coklat kekuningan berbiji satu.

Biji sangat beracun dan biasa dipakai untuk meracun ikan atau serangga.
Daun yang dikeringkan didalam buku dapat menolak serangga atau kutu.
Perbanyakan dengan biji, tumbuhnya cepat, asalnya dari Cina.

SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS:
Rasa pahit, dingin, sedikit beracun. Obat cacing (anthelmintic), membersihkan panas dan lembab, laxative, peluruh air kemih.

KANDUNGAN KIMIA:
Kulit batang dan kulit akarnya mengandung toosendanin C3OH30O11. dan komponen yang larut C30H40O12. Juga terdapat margoside, kaempferol, resin, tannin, n—triacontane. betha – silosterol, dan triterpene kulinone.
Biji mengandung resin yang sangat beracun.

BAGIAN YANG DIPAKAI: Kulit batang, kulit akar dan daun, pemakaian segar atau dikeringkan.

KEGUNAAN:
Penderita cacingan terutama ascariasis, oxyuriasis, taeniasis, dan trichuriasis.
Darah tinggi (hipertensi).

PEMAKAIAN:
Untuk minum : 5-10 gr (Yang segar : 30-60 gr), digodok, atau dijadikan bubuk, pil.

Pemakaian luar: Dipakai pada penyakit jamur (tinea capitis) scabies, eczema, koreng, urticaria (gatal-gatal), dan trichomonal vaginitis (dengan gejala gatal dan keputihan). Kulit batang atau kulit akar digodok, airnya untuk cuci atau dibakar/dipanggang lalu dijadikan bubuk, ditambahkan cuka atau minyak, untuk pemakaian setempat. Daun digodok, airnya untuk cuci dan daunnya dikompreskan ke koreng, bisul, eczeem, infestasi cacing pada kulit.

CARA PEMAKAIAN:
Cacingan:90-120 gr kulit batang atau kulit akar segar digodok, minum.

Scabies (dengan gejala gatal pada kulit): Bubuk dari kulit batang/akar, dicampur dengan cuka, setelah diaduk rata, diborehkan pada bagian badan yang gatal.

Kudis: Kulit batang atau kulit akar digodok, airnya untuk cuci bagian yang sakit.