edema

Waru Landak | Hibiscus mutabilis

waru-landak

waru-landak

Kandungan
a. anthocyanin
b. isoquercitrin
c. hyperin
d. hyperoside
e. rutin
f. spiraeoside
g. quercimeritrin
h. quercetin-4-glucoside
i. cyanidin 3-rutinoside-5-glucoside
j. 3,5-diglucoside
k. cyanidin 3-rutinoside-5-glucoside
l. tannin
m. phenol
n. asam amino
o. zat gula

Manfaat
a. meningkatkan kekebalan tubuh
b. membersihkan panas dan racun dalam tubuh
c. mendinginkan darah
d. menghilangkan bengkak
e. menghentikan perdarahan
f. membantu pengeluaran nanah
g. menyembuhkan bisul

Ramuan tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit
Untuk mendapatkan manfaat dari pengobatan waru landa ini, ada dua cara pengobatan, yaitu pengobatan dari dalam dan pengobatan dari luar. Untuk pengobatan dari dalam, ambillah daun, bunga, atau kulit waru landak secukupnya.

Kemudian cuci bersih, dan rebus dengan air hingga mendidih, saring, dan dinginkan. Air rebusan inilah yang diminum setiap hari secara rutin.

Biasanyanya untuk pengobatan penambahan daya tahan tubuh, membersihkan racun dan mendinginkan darah, mengeluarkan nanah, dan lain-lain, sendangkan untuk pengobatan dari luar, cukup ambil bahan yang diperlukan, cuci bersih, kemudian tumbuk halus dan tempelkan pada bagian yang sakit. Ini untuk mengobati bisul dan bengkak.

Jarak Bali | Jatropha podagrica

jarak-bali

jarak-bali

Tanaman ini dapat ditemukan sebagai tanaman hias, yang ditanam di pekarangan atau tempat rekreasi. Asalnya dari Amerika tropis.

Perdu tegak, tinggi 0,5-1,5 m, bergetah warna putih, batang tunggal atau sedikit bercabang, dengan pangkal batang yang membesar dan melembung seperti umbi. Daun bertangkai yang panjangnya 20-30 cm, helai daun bangun perisai, bentuknya bulat telur melebar dengan ukuran penampang 20-40 cm, bercangap 3 atau 5 taju runcing atau membulat. Bunga dalam malai rata yang bertangkai panjang, dengan bunga betina dan bunga jantan dalam satu tangkai, warnanya merah oranye. Buah bentuk elips melebar, berkendaga tiga, panjang 1,5 cm. Biji lonjong atau bulat panjang.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis
Manis, pahit, dingin. Menghilangkan sakit (analgetik), menghilangkan pembengkakan, menghilangkan racun dan membersihkan panas

Bagian yang dipakai
Seluruh tanaman

Kegunaan
Demam
Bengkak terpukul
Digigit ular berbisa

Pemakaian
Untuk minum: 10-15 g direbus. Ampasnya digunakan untuk ditempelkan pada tempat yang sakit.

Blustru | Luffa aegyptica

blustru

blustru

Nama daerah
Sumatra: Blustru, hurung jawa, ketola, timpul; Jawa: Blustru, lopang, oyong, bestru, blestru; Maluku: Dodahala, petalo panjang, p. cina

Uraian tanaman
Terna semusim, banyak ditanam orang di ladang, pada pagar halaman sebagai tanaman sayur, atau tumbuh liar di semak, tepi sungai, dan pantai laut. Batangnya bisa mencapai 2-10 m, memanjat, dengan sulur-sulur pembelit yang keluar dari ketiak daun. Daun tunggal, bulat telur melebar, berlekuk menjari 5-7, pangkal berbentuk jantung, tulang daun menojol di bawah, panjang 8-25 cm, lebar 15-25 cm, panjang tangkai daun 4-9 cm, letaknya berseling.

Warna daun permukaan atas hijau tua, bagian bawah hijau muda. Bunga berkelamin tunggal, terdapat dalam 1 pohon, mahkota bunga berwarna kuning.

Buah tergantung atau terletak di atas tanah, bentuknya silindris, bulat memanjang, panjang 10-50 cm, dengan garis tengah 5-10 cm, bila sudah tua berwarna cokelat. Bagian dalam dari buah yang sudah masak terdapat anyaman sabut yang rapat. Bijinya gepeng dengan tepi berbentuk sayap, licin, hitam. Buah muda dapat disayur, daun muda dibuat gulai atau botok.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis
Buah: manis, sejuk, masuk meridian hati, lambung, dan ginjal. Membersihkan panas dan racun, peluruh dahak
Biji: pahit, dingin, beracun, peluruh kemih, menghilangkan panas
Daun: membersihkan darah
Bunga: manis, sedikit pahit, dingin
Sabut: manis, netral, melancarkan sirkulasi peredaran darah dan saraf, menghilangkan panas dan dahak
Akar: manis, netral, melancarkan peredaran darah, menghilangkan bengkak
Batang: pahit, dingin, beracun, masuk meridian jantung, limpa, ginjal. Melancarkan peredaran darah, mematikan cacing

Kandungan kimia
Buah: saponin, luffein, citrulline, cucurbitacin
Getah: saponin, lendir, lemak, protein, xylan, vitamin C, B
Biji: minyak lemak, squalene, alpha-spinasterol, cucurbitacin B, protein
Daun: saponin
Bunga: glutamine, aspartic acid, arginine, lysine, alamine
Sabut: xylan, cellulose, galaktosa, manitosa
Batang: saponin

Bagian yang dipakai
Buah, kulit buah, tangkai buah, biji, sabut, daun, bunga, batang, akar

Kegunaan
Buah: demam, haus, batuk sesak, perdarahan, keputihan, air kemih berdarah, ASI tidak lancar, bisul
Biji: muka dan tangan kaki bengkak (edema), batu saluran kemih, wasir
Daun: bisul, kurap, digigit ular, luka bakar
Kulit buah: luka, bisul, abses rektum
Bunga: batuk panas, tenggorokan sakit, bisul, wasir, sinusitis
Sabut: sakit dada, sakit perut, sakit pinggang, batuk berdahak, tidak datang haid, produksi ASI sedikit, bisul, wasir. Arang dari sabut dapat menghentikan perdarahan, air kemih berdarah, perdarahan pada wanita.
Akar: migrain, sakit pinggang, payudara bengkak, tenggorokan sakit
Batang: rasa baal, haid tidak teratur, hidung berlendir, edema
Tangkai buah: cacar air pada anak-anak

Pemakaian
Buah:
untuk minum: 10-15 g (segar 100-150 g), digodok atau dibakar menjadi bubuk
Pemakaian: dilumatkan lalu diperas airnya untuk dioleskan atau dijadikan bubuk, dibubuhi ke tempat yang sakit
Biji:
untuk minum: 5-10 g digodok atau disangrai lalu digiling dijadikan bubuk
Pemakaian luar: digiling menjadi bubuk dan dibubuhi
Daun:
untuk minum: 50-150 g daun segar digodok atau digiling dan diperas airnya, atau dijadikan bubuk
Pemakaian luar: digodok dan airnya untuk cuci, atau dilumatkan, atau dijadikan bubuk, dibubuhi ke tempat yang sakit
Kulit buah:
Pemakaian luar: dipanggang sampai kering, lalu digiling menjadi bubuk dan diaduk rata dengan arak, untuk dioleskan ke tempat yang sakit
Bunga:
untuk minum: 10-15 g digodok
Pemakaian luar: dilumatkan dan dibubuhi ke tempat yang sakit
Sabut:
untuk minum: 10-15 g digodok atau dipanggang lalu digiling menjadi bubuk
Pemakaian luar: dijadikan bubuk, dibubuhi ke tempat yang sakit
Akar:
untuk minum 5-15 g (segar 50-150 g) digodok atau dijadikan bubuk
Pemakaian luar: digodok airnya untuk cuci tempat yang sakit
Batang:
untuk minum: 50-100 g digodok, atau dijadikan bubuk
Pemakaian luar: dijadikan bubuk, dibubuhi pada tempat yang sakit

Cara pemakaian:
Tidak teratur datang haid. Daging buah blustru sebesar 4 jari dicuci bersih lalu diparut, diremas dengan ½ cangkir air masak dan sedikit garam, diperas dan disaring, minum sehari 3x.
Sakit pinggang: bijinya disangrai sampai hangus, lalu digiling sampai halus dan dicampur dengan arak, minum. Ampasnya dibubuhi ke tempat yang sakit.
Perdarahan pada wanita: daun disangrai hingga hitam, lalu digiling menjadi bubuk, setiap kali, 20 g diseduh dengan arak, minum.
Sesak napas: 5 lembar daun muda dicuci bersih lalu diasapkan sebentar, dimakan dengan nasi sebagai lalap. Sehari 2x.
Batuk disertai sesak: 10-15 g bunga digodok, tambahkan madu secukupnya, setelah dingin disaring, lalu diminum.
Migrain: 150 g akar segar ditmbah telur itik 2 butir, digosok, airnya diminum, telurnya dimakan.
Sakit pinggang: akar dibakar dengan alas genting, lalu digiling menjadi bubuk. Setiap kali 10 g diminum dengan arak hangat
Bisul yang tidak mau pecah: akar tua digodok, airnya untuk kompres bisul.

Catatan: wanita hamil dan fungsi limpa lemah dilarang makan

Bidara Upas | Merremia mammosa

bidara upas

bidara upas

Deskripsi
Tumbuh dengan baik di daerah tropis dari dataran rendah sampai ketinggian 250 m dpl. Bidara upas merupakan tanaman merayap atau membelit yang panjangnya 3-6 m, batangnya kecil bila dipegang agak licin dan warnanya agak gelap. Daun tunggal, bertangkai panjang, brebentuk jantung, tepi rata, ujung meruncing, panjang 5-12 cm, lebar 4-15 cm, warnanya hijau tua. Bunga berbentuk payung menggarpu berkumpul 1-4 bunga, bentuknya seperti lonceng berwarna putih, panjang 7-8 cm dengan 4 helai kelopak. Umbi mirip ubi jalar, beratnya dapat mencapai 5 kg atau lebih. Wrna kulit umbinya kuning kecokelatan, kulitnya tebal bergetah warna putih, bila kering warnanya menjadi cokelat.

Nama daerah
Blanar, widara upas (Jawa), hailale (Ambon)

Kandungan
Damar, resin, pati, zat pahit, dan zat pengoksidasi

Khasiat
Antiradang, menghilangkan sakit (analgetik), menghilangkan bengkak, pencahar, menetralkan racun, penyejuk

Bagian yang digunakan
Umbi

Tali Putri | Cassytha filiformis

tali-putri

tali-putri

Nama daerah
Sumatra: akar pengalasan, rumput putri, tali putri; Sunda: sangga langit; Madura: mas semasan; Ternate: gumi guraci

Terna parasit yang merambat dan membelit pada bagian atas dari tanaman lain tumbuh tidak teratur dan dapat menutup tanaman induk hingga tidak kelihatan sama sekali. Tersebar di daerah tropis, ditemukan di beberapa tumbuhan perd dan pohon-pohon yang rendah di semak belukar dan lapangan terbuka, terutama di daerah pantai dan kadang tempat-tempat yang jauh dari pantai.

Batang bulat halus seperti benang, lemas, bercabang, panjang 3-8 m, dengan diameter kurang dari 0,5 mm, berwarna hijau atau cokelat muda kekuningan, melekat pada tanaman lain dengan alat pengisap.

Daun berupa sisik kecil, bunga kecil berwarna putih kekuningan dan berkumpul berbentuk bulir dengan panjang 2-5 cm. Buah bulat berdaging dengan diameter 7 mm. Alat pengisap (akar pengisap) dapat digunakan untuk pengobatan kanker.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis
Manis, agak pahit, sejuk dan beracun. Penurun panas (antipiretik), antiradang, peluruh kencing, membersihkan darah, menghentikan perdarahan (hemostatik). Herba ini masuk meridian hati dan ginjal.

Kandungan kimia
Cassyfiline, cassythine, larotetanine, galactitol

Bagian yang dipakai
seluruh herba, potong-potong, cuci, keringkan dengan menjemur di bawah naungan

Kegunaan
Demam, malaria, influenza
Radang, ginjal, infeksi, dan batu saluran kencing
bengkak (edema)
sakit kuning
batuk darah, mimisan, kencing darah, disentri
menjadi kurus karena lever panas
batuk karena paru-paru panas
mempermudah persalinan
obat cacing
kanker
penyubur rambut

Pemakaian
Untuk diminum: 1-=15 g (yang segar 30-50 g) digodok, minum
Pemakaian luar: dipakai untuk luka bakar eksem, bisul. Caranya, herba segar setelah dicuci bersih, dilumatkan atau yang kering digiling menjadi bubuk dan ditempelkan ke tempat yang sakit. Dapat juga herba segar digodok, airnya untuk cuci bagian luka.
Anak panas lever dan kurus: setiap hari 60 g herba segar dan air secukupnya digodok sampai tersisa ½ mangkuk. Dibagi untuk 2 kali minum.
Disentri: 30 g herba segar digodok, minum
Kencing darah: 90-120 g herba segar (yang kering 15 g) digodok dan diseduh gula merah secukupnya, minum.
Sakit kuning, batuk darah, susah buang air besar: 15-30 g herba kering digodok, minum
Eksem, borok: Herba segar digodok, airnya untuk cuci bagian yang sakit
Penyubur rambut. Lendir dari cairannya digunakan untuk membasahi kepala, air perasannya diminum.

Tekokak | Solanum torvum

takokak

takokak

TAKOKAK (Solatium toruum Swartz atau S ferrugium Jacq) di beberapa daerah dinamai cepoka, cokowana, pokak, atau terong pipit. Tumbuhan ini tergolong perdu dan masuk ke dalam famili Solanaceae. Tumbuhan ini sering hidup liar di berbagai daerah, baik di daratan rendah hingga ke pegunungan. Tinggi tumbuhannya bisa mencapai dua m lebih dengan batang berwarna hijau kecoklatan penuh duri tajam dan berbulu halus. Daunnya besar bergerigi lebar dan permukaannya pun berbulu. Bunganya kecil berwarna putih berkelompok lima hingga enam dalam satu tangkai dengan putiknya berwarna kuning. Bila bunga dibuahi, maka muncullah bakal buah berwarna hijau. Buahnya terus berwarna hijau dengan biji berwarna putih lunak. Bila buah sudah matang, berwarna kehitaman dengan biji berwarna kecoklatan dan keras. Pemeliharaan tanaman ini cukup mudah. Selain memang bisa hidup liar, tumbuhan ini juga memerlukan pupuk dasar dan cukup air dengan penyiraman atau menjaga kelembaban tanah.
Takokak memiliki efek farmakologi rasa pedas, sejuk, dan agak beracun. Oleh karenanya, bila digunakan untuk pengobatan penyakit tertentu, perlu diperhatikan dosisnya, karena bisa menimbulkan keracunan. Selain itu, penderita kecenderungan glaucoma dilarang meminumnya. Tanaman ini mengandung alkaloid, fenol, flavonoid jenis flavon, terpenoid, tanin, dan saponin. Pada buah mentah terdapat chlorogenin, sisalogenone, torvogenin, dan vitamin A. Buah keringnya terdapat solasonin 0,1 persen. Daunnya terdapat neo-chlorogenine, panicolugenin. Sedangkan pada akarnya terdapat kandungan jurubine.

CARA MENDAPATKAN TEKOKAK
Perbanyakannya menggunakan biji yang banyak terdapat si dalam buah.

KHASIAT TAKOKAK
Takokak dapat melancarkan sirkulasi dan menghilangkan darah beku, menghilangkan sakit (analgetik), menghilangkan sakit (analgetik), dan mengatasi batuk (antitusif). Biasanya, efek farmakologi diperoleh dari daun dan akamya. Akarnya dicuci dan dipotong-potong secukupnya. Lalu, akar itu dijemur dan disimpan bila sudah kering. Daunnya digunakan dalam keadaan segar. Selain itu dapat mengatasi dan menyembuhkan beberapa penyakit, seperti bengkak, sakit lambung, bisul, batuk kronis, dan koreng.

RESEP
Pinggang kaku, bengkak akibat terpukul sakit lambung dan melancarkan haid, serta batuk kronis, digunakan akar kering sebanyak 10-15 g. Akar itu direbus oleh 4 gelas air hingga jadi 2 gelas, lalu disaring. Airnya diminum dua kali satu gelas hingga sakitnya sembuh.

Bisul dan koreng gunakan daun yang segar dicuci sampai bersih dan digiling halus. Bubuhkan ke bagian yang sakit dan dibalut.

Mengatasi jantung berdebar (tachycardia) dan nyeri jantung, digunakan enam lembar daun takokak segar. Daun ini ditambah setengah jari kunyit, ditumbuk halus. Campurkan setengah cangkir air masak dan satu sendok makan madu. Semuanya diperas dan disaring. Minum air itu sehari dua kali.

Batuk kronis dapat juga menggunakan takokak dengan cara dicuci bersih 13 g akar kering. Rebus akar dengan 4 gelas air sampai mendidih dan airnya tersisa 2 gelas. Setelah dingin, saring ramuan. Minum air hasil rebusan 2 kali per hari, masing- masing 1 gelas.

Catatan:
• Penderita glaucoma dilarang minum ramuan berbahan takokak.
• Kelebihan dosis menyebabkan keracunan.

Daun Dewa | Gynura procumbens Lour.(Merr)

daun-dewa

daun-dewa

DAUN DEWA atau [Gynura procumbens Lour.(Merr)] memiliki beberapa nama lain. Daun dewa dikenal dengan sebutan ngokilo di Jawa dan beluntas cinta di Sumatera. Tumbuhan ini berasal dari Birma dan Cina. Masyarakat disana mengkonsumsi sayuran ini sebagai sayuran. Tanaman ini dapat dibudidayakan melalui kultur jaringan terna tahunan, tegak, tinggi ± 50 cm, pada umumnya ditanam di pekarangan sebagai tanaman obat. Batang muda berwarna hijau dengan alur memanjang warna tengguli, bila agak tua bercabang banyak. Daun tunggal, mempunyai tangkai, bentuk bulat telur sampai bulat memanjang. Ujung melancip. Daun tua membagi sangat dalam. Daun banyak berkumpul di bawah, agak jarang pada ujung batang, letak berseling. Kedua permukaan daun berambut lembut, warna putih. Warna permukaan daun hijau tua, bagian bawah berwarna hijau muda. Panjang daun 8-20 cm. lebar 5-10 cm. Bunga terletak di ujung batang, warna kuning berbentuk bonggol (kepala bunga). Mempunyai umbi berwarna ke abu-abuan, panjang 3-6 cm, dengan penampang ± 3 cm. Kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman ini antara lain minyak atsiri, flavonoid, Efek farmakologis netral, rasa khas, memiliki anti koagulan (zat yang dapat menghambat pembekuan darah), mencairkan darah beku, stimulasi sirkulasi, menghentikan pendarahan, panas dan membersihkan racun. Bagian tanaman yang dapat digunakan adalah seluruh tanaman.

CARA MENDAPATKAN DAUN DEWA
Perbanyakan tanaman ini dapat dilakukan dengan stek batang, tunas akar (umbi) atau langsung menebarkan umbinya. Untuk perawatan dilakukan penyiraman dan pemberantasan rumput-rumput dan tumbuhan pengganggu setiap hari. Tanaman ini akan tumbuh dengan baik jika ditanam pada akhir musim hujan terutama di daerah dengan kelembapan tinggi dan air tanah yang memadai. Selain itu tumbuh baik di dataran rendah sampai ketinggian 1.200 m dpl  dan di daerah beriklim sedang sampai basah dengan curah hujan 1.500- 3.500 mm/tahun dengan tanah agak lembab hingga subur.

BAGIAN TANAMAN YANG DIGUNAKAN
Umbi dan daun.

KHASIAT DAUN DEWA
Khasiat dari daun dewa antara lain dapat digunakan sebagai obat antikanker, penurun panas, obat penyakit kulit, penurun kadar gula dalam darah, luka terpukul, pendarahan, batuk darah, muntah darah, mimisan, infeksi kerongkongan, tidak datang haid, gigitan hewan berbisa, pembekuan darah, tulang patah, pendarahan setelah melahirkan, kanker, lever, stroke, darah tinggi.

RESEP
Bagian umbi dapat menghilangkan bekuan darah (haematom) pembengkakan, tulang patah (fraktur), perdarahan sehabis melahirkan.
Ramuan: 15-30 g daun segar, direbus atau ditumbuk kemudian diperas, minum.
Untuk pemakaian luar: Secukupnya tumbuhan ini dilumatkan sampai seperti bubur, ditempelkan ke tempat yang sakit.

Untuk pengobatan lain:
Digigit ular/digigit binatang lain
Umbi dilumatkan kemudian ditempelkan di tempat kelainan.

Kutil
5 lembar daun dewa dihaluskan, dan dilumurkan pada tempat berkutil, kemudian dibalut. Dilepas keesokan harinya.

Luka terpukul, tidak datang haid
15-30 g herba direbus atau ditumbuk, diambil airnya, campur dengan arak yang sudah dipanaskan, minum.

Perdarahan pada wanita, pembengkakan payudara, batuk dan muntah darah:

1 batang lengkap (15 g) direbus, minum.
Kejang pada anak: 1 batang ditumbuk ambil airnya, dicampur arak, minumkan.

Luka terpukul, masuk angin
6-9 g umbi segar ditambah arak kuning (wong ciu) secukupnya, kemudian dipanaskan, minum.

Pinang | Areca catechu

pinang

pinang

PINANG adalah sejenis palma yang tumbuh di daerah Pasifik, Asia dan Afrika bagian timur. Nama ilmiah dari tanaman ini adalah Areca catechu, famili Arecaceae. Sebutani pinang di beberapa daerah antara lain adalah pineung (Aceh), pining (Batak Toba), penang (Madura), jambe (Sunda dan Jawa), bua, ua, wua, pua, fua, hua (aneka bahasa di Nusa Tenggara dan Maluku). Batang pinang lurus dan dapat mencapai ketinggian 25 m dengan diameter 15 cm. Pelepah daun berbentuk tabung dengan panjang 80 cm, tangkai daun pendek; helaian daun panjangnya sampai 80 cm, anak daun 85 x 5 cm, dengan ujung sobek dan bergerigi.

Buah pinang berbentuk bulat telur terbalik memanjang, merah oranye, panjang 3,5-7 cm, dengan dinding buah yang berserabut. Biji 1 berbentuk telur, dan memiliki gambaran seperti jala. Biji pinang rasanya pahit, pedas dan hangat serta mengandung 0,3-0,6%, alkaloid, seperti arekolin (C8HnN02), arekolidine, arekain, guvakolin, guvasine dan isoguvasine. Selain itu juga mengandung red tannin 15%, lemak 14% (palmitic, oleic, stearic, caproic, caprylic, lauric, myristic acid), kanji dan resin. Biji segar mengandung kira-kira 50% lebih banyak alkaloid dibandingkan biji yang telah mengalami perlakuan.

KHASIAT PINANG
Biji pinang dapat digunakan untuk mengatasi penyakit seperti haid dengan darah berlebihan, hidung berdarah (mimisan), koreng, borok, bisul, eksim, kudis, difteri, cacingan (kremi, gelang, pita, tambang), diare dan disentri oleh masyarakat Desa Semayang Kutai-Kalimatan Timur. Selain itu digunakan juga untuk mengatasi bengkak karena retensi cairan (edema), rasa penuh di dada, luka, batuk berdahak, diare, terlambat haid, keputihan, beri-beri, malaria, memperkecil pupil mata.

Biji dan kulit biji bagian dalam dapat juga digunakan untuk menguatkan gigi goyah, bersama-sama dengan sirih. Air rendaman biji pinang muda digunakan untuk obat sakit mata oleh suku Dayak Kendayan, di kecamatan Air Besar Kalimantan Barat. Pinang muda dapat digunakan bersama dengan buah sirih untuk menguatkan gigi. Umbut pinang muda dapat digunakan untuk mengobati patah tulang, dan sakit pinggang. Daun pinang berguna untuk mengatasi masalah tidak nafsu makan. Sabut pinang digunakan untuk gangguan pencernaan, sembelit dan edema.

RESEP
1. Untuk mengatasi penyakit seperti haid dengan darah berlebihan, hidung berdarah (mimisan), koreng, borok, bisul, eksim, kudis, difteri, cacingan (kremi, gelang, pita, tambang), diare dan disentri, biji pinang direbus. Air hasil rebusannya kemudian diminum

2.Pinang muda dapat dikunyah dengan sirih untuk menguatkan gigi.

Keterangan: Mengingat kandungan kimia tanaman pinang yakni alkaloid arekolin mengandung racun dan penenang sehingga tidak dianjurkan untuk pemakaian dalam jumlah besar.

Rumput Teki | Cyperus rotundus

rumput-teki

rumput-teki

Terna menahun, tinggi 15-95 cm. Tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari pada lapangan rumput, pinggir jalan, tanah telantar, tegalan atau di lahan pertanian yang tumbuh sebagai gulma yang sukar diberantas. Terdapat dari 1-1.000 m di atas permukaan laut, pada bermacam-macam tanah. Batang tumpul segitiga, tajam.

Daun 4-10 helai berjejal pada pangkal batang membentuk rozet akar, dengan pelepah daun tertutup tanah.

Helaian daun berbangun pita, bertulang sejajar, tepi rata, permukaan atas berwarna hijau mengkilap. dengan panjang 10-60 cm, lebar 2-6 mm. Rimpang (umbi) menjalar, berbentuk kerucut yang besar pada pangkalnya, kadang-kadang melekuk, warnanya cokelat, berambut halus berwarna cokelat atau cokelat hitam, keras, wangi, panjang 1,5-4,5 cm dengan diameter 5-10 mm. Bunga berbentuk bulir dengan 3-10 bulir kecil yang mempunyai 8-25 bunga yang berkumpul berbentuk payung, warnanya kuning atau cokelat kuning. Buahnya buah batu, kecil, bentuknya memanjang sampai bulat telur terbalik.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis
Rasa pedas, sedikit pahit, manis, netral. Masuk meridian hati dan san ciao, Menormalkan siklus haid (regulated menses), melancarkan vital energi dan penyakit-penyakit pada wanita (gynecological diseases).

Kandungan kimia
Berisi 0,3-1% minyak menguap yang isinya bervariasi tergantung daerah asal tumbuhnya. Yang berasal dari Cina berisi cyperene dan patchoulenone. Yang berasal dari Jepang berisi cyperol, cyperene I & II, alfa-cyperene, cyperotundone dan cyperolone. Juga mengandung alkaloid, glikosida jantung dan flavonoid.

Bagian yang dipakai
Rimpang

Kegunaan
Sakit dada, sakit iga
Sakit sewaktu haid, datang haid tidak teratur
Luka terpukul, memar
Gatal-gatal di kulit, bisul
Perdarahan dan keputihan
Bengkak akibat retensi cairan (edema)
Gangguan fungsi pencernaan, seperti mual, muntah, nyeri lambung dan perut.

Pemakaian
Untuk minum: 5-10 g umbi digodok atau dijadikan bubuk/pil.

Pemakaian luar: Digiling menjadi bubuk, lalu ditaburkan ke tempat sakit atau dijadikan salep, atau diiris tipis-tipis dan ditempelkan ke tempat yang sakit.

Cara pemakaian
Bisul: Teki segar dicuci bersih lalu digiling halus, dan ditempelkan ke tempat yang sakit.
Busung/bengkak: 3 jari rimpang teki dicui bersih lalu digiling halus, seduh dengan 3/4 cangkir air panas, suam-suam kuku disaring, lalu diminum dengan madu. Sehari 2 kali.
Haid tidak teratur dan sakit: 6-9 g umbi digodok, minum. Akan menyebabkan haid menjadi teratur dan menghentikan perdarahan.

Nusa Indah Putih | Mussaenda pubescens

nusa-indah-putih

nusa-indah-putih

Nama asing
Splash of white

Perdu dengan ranting yang naik, tinggi 1-2 m, cabang kecil ditumbuhi rambut halus. Tumbuh liar pada lereng bukit, semak-semak, atau dipelihara sebagai tanaman hias.

Daun tunggal, bertangkai, dengan daun penumpu. Bentuk daun bundar telur, letak berhadapan bersilang, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, tulang daun menyirip, berambut halus, panjang 5-8 cm, lebar 2-3,5 cm.

Bunga majemuk di ujung tangkai berbentuk payung, bunganya kecil berbentuk teropet, warnanya kuning, panjang 2 cm, dengan daun pelindung berwarna putih. Buahnya buah buni, bulat memanjang, panjang 8-10 mm, lebar 6-7,5 mm.

Sifat kimiawi dan efek farmakologis
Batang: Rasa sedikit manis, agak pahit, sejuk. Penurun panas (antipiretik), membersihkan darah, antiradang, menetralisir racun, melancarkan peredaran darah.

Akar: manis, netral

Kandungan kimia
1. Batang mengandung betasitosterol, arjunolic acid, stigmasterol
2. Daun mengandung betasitosterol

Bagian yang dipakai
Batang, daun, akar

Kegunaan
Batang, daun:
influenza, demam, pingsan karena udara sangat panas (heat stroke), batuk, radang amandel, radang tenggorok (pharyngitis), radang ginjal, bengkak (edema), disentri, diare, keracunan makanan, perdarahan pada wanita, gigitan ular belang, koreng, bisul, luka

Akar:
cacingan pada anak, masuk angin setelah bersalin, sakit pinggang, tumor payudara

Pemakaian
Untuk minum:
Batang: 15-30 g (segar 30-60) digodok atau ditumbuk dan air perasannya diminum.
Akar: 30-60 g digodok atau digiling menjadi bubuk
Pemakaian luar: Lumatkan dan bubuhi ke tempat yang sakit

Cara pemakaian:
Diare akut, disentri: 30-60 batang, daun segar setelah dicuci bersih, digodok dg 3 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin, disaring lalu diminum.

Bisul: Tanaman segar setelah dicuci bersih lalu ditumbuk halus dan dibubuhi ke tempat yang sakit.

Keracunan makanan: Daun segar setelah dicuci bersih, ditumbuk, air perasannya diminum.

Demam, heat stroke: 12 g batang Mussaenda, 10 g daun poko, 3 g Mentha arvensis, seduh dengan air panas, minum.

Air kemih sedikit: 30 batang Mussaenda, 60 g batang segar, Lonicera japonica, 30 g Plantago major (Daun sendok), godok, minum.

Share to

Oppo F1 Plus Selfie Expert

MINYAK KEMIRI MURNI

Klik Gambar
WhatsApp 0812-1318-9991

MENGHILANGKAN KARANG GIGI

Klik Gambar
WhatsApp 0812-1318-9991

MENGHILANGKAN NGOROK

Klik Gambar
WhatsApp 0812-1318 9991

THERMOMETER DIGITAL

Klik Gambar
WhatsApp 0812-1318-9991

PEMBERSIH TELINGA ELEKTRIK

Klik Gambar
WhatsApp 0812-1318-9991

ALAT CEK GULA DARAH

Klik Gambar
WhatsApp 0812-1318-9991

TENSIMETER

Klik Gambar
WhatsApp 0812-1318-9991

TIMBANGAN DIGITAL BAGUS

Klik Gambar
WhatsApp 0812-1318-9991

TEH ASHITABA

Klik Gambar
Hubungi: WhatsApp 0812-1318-9991

BUAH MERAH ASLI PAPUA

Klik Gambar
Hubungi WhatsApp 0812-1318-9991

INGIN CEPAT HAMIL?

Visitor

Sponsored by